Cara menyusui yang benar berfokus pada posisi nyaman dan sesuai keinginan bayi (menyusu sampai kenyang di satu sisi lalu pindah ke sisi lain) agar ASI efektif dan mencegah nyeri puting, dengan ibu tetap rileks dan terhidrasi.
Duduk dengan sandaran atau berbaring, pastikan punggung dan kaki nyaman. Gunakan bantal jika perlu.
Dekatkan perut bayi ke perut ibu, tubuh bayi lurus (telinga, bahu, pinggul segaris), wajah menghadap payudara, hidung sejajar puting.
Pegang payudara dengan ibu jari di atas dan jari lain di bawah, jangan menekan puting.
Sentuh lembut pipi atau dagu bayi dengan puting. Saat bayi membuka mulut lebar seperti menguap, dekatkan bayi ke payudara.
Pastikan mulut bayi mencakup sebagian besar areola (bagian coklat), bukan hanya puting. Bibir bawah bayi terbuka ke luar.
Ibu tidak nyeri, bayi menelan ASI terdengar, dagu bayi menempel payudara.
Susui satu sisi sampai bayi berhenti atau payudara terasa kosong, baru pindah ke sisi lain untuk memastikan bayi mendapat ASI akhir yang kaya lemak.
Susui sesuai permintaan bayi, jangan dibatasi waktu. Bayi akan memberi tanda lapar.
Sendawakan bayi di sela-sela menyusu atau setelah selesai untuk mengeluarkan udara.
ASI perah memungkinkan ibu tetap memenuhi kebutuhan nutrisi bayi meskipun harus bekerja atau beraktivitas di luar rumah.
ASI perah adalah Air Susu Ibu yang diperah secara manual menggunakan tangan atau alat pompa ASI, lalu disimpan untuk diberikan kepada bayi saat ibu tidak bisa menyusui langsung.
Pengelolaan ASI perah yang tepat dapat mendukung keberlanjutan pemberian manfaat ASI kepada bayi secara optimal meskipun ibu tetap menjalani aktivitas sehari-hari.
Menjamin nutrisi terbaik untuk bayi meskipun ibu bekerja atau memiliki kondisi tertentu.
Mendukung pencapaian ASI eksklusif.
Proses pemerahan dan penyimpanan ASI perlu dilakukan dengan cara yang benar untuk menjaga kebersihan serta kandungan gizi, agar membantu memastikan ASI perah tetap aman dan berkualitas saat dikonsumsi bayi.
Selalu cuci tangan sebelum memerah dan gunakan peralatan yang bersih dan steril.
Gunakan botol kaca atau kantong ASI khusus yang aman (bebas BPA), jangan kantong plastik biasa.
Beri label dengan nama bayi dan tanggal pemerahan untuk memastikan ASI yang lebih lama dipakai dulu.
Simpan dalam porsi kecil (60-120 ml) untuk menghindari sisa.
Dinginkan segera setelah diperah, masukkan ke chiller (kulkas bawah) dulu sebelum dipindahkan ke freezer.
Penyimpanan ASI perah yang benar sangat penting untuk menjaga kualitas, kebersihan, serta kandungan gizi di dalamnya. ASI perlu disimpan sesuai dengan suhu dan wadah yang tepat agar tetap aman hingga waktu pemberian kepada bayi.
Perhatikan kebersihan, urutan penggunaan, serta cara penanganan ASI perah agar kandungan gizi dan keamanannya tetap terjaga. Kesalahan dalam penyimpanan dan pemberian ASI dapat menurunkan kualitas ASI dan berisiko bagi kesehatan bayi.
Jika menyimpan di chiller, sebaiknya berikan ASI perah yang paling terdekat dengan usia bayi saat itu. Jika menyimpan di freezer : metode FIFO (First in first out) atau ASI perah yg pertama kali disimpan, ASI yg di gunakan terlebih dahulu
Jika beku, cairkan di kulkas atau rendam dalam air hangat (jangan direbus atau pakai microwave). ASI beku dapat dicairkan perlahan di kulkas atau dicairkan dengan dibiarkan dalam wadah berisi air hangat, dan digunakan dalam waktu 24 jam.
Putar wadah untuk mencampur lemak yang terpisah, JANGAN dikocok agar nutrisi tidak rusak.
Jangan simpan sisa ASI yang sudah diminum bayi untuk pemberian berikutnya.
Telekonseling Sistagi